Bersama Kelompok Tani Terang Jaya Abadi, Pak Jek terus berkreasi, melakukan pengolahan dan riset untuk menghasilkan pakan ternak yang terjangkau dengan memanfaatkan sumber bahan baku yang tersedia di daerah.
Apa yang dilakukan Pak Jek bukan sekadar aktivitas usaha peternakan. Lebih jauh, ia mencoba menjawab persoalan yang selama ini dihadapi peternak lokal, mulai dari mahal dan terbatasnya bahan baku pakan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, hingga kebutuhan bibit ayam yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peternak.
Perjalanan tersebut dilakukan secara bertahap. Berawal dari keterbatasan peralatan, Pak Jek bahkan membuat sendiri sejumlah peralatan produksi menggunakan keterampilan dan kreativitas tangannya. Dari peralatan sederhana itulah proses pengembangan pakan kemudian terus dilakukan.
Kini, usaha yang dirintis dari tempat sederhana tersebut mulai mendapatkan perhatian dari instansi terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bahkan, tempat usaha Pak Jek saat ini telah berkembang menjadi sentra pelatihan bagi peternak lokal dari Belitung dan Belitung Timur.
Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan. Ketika harga maupun ketersediaan bahan baku mengalami persoalan, peternak menjadi pihak yang langsung merasakan dampaknya.
Karena itu, Pak Jek mencoba mencari solusi dengan memanfaatkan potensi bahan baku yang tersedia di Belitung.
“Terus berkreasi, mengolah dan riset bagaimana menghasilkan pakan ternak yang terjangkau dengan sumber bahan baku yang melimpah,” menjadi semangat yang terus dikembangkan dalam kegiatan tersebut.
Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah ketersediaan jagung. Sebagai salah satu bahan utama pakan ternak, jagung saat ini relatif sulit didapatkan secara konsisten.
Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan produksi pakan.
Namun, Belitung sebagai daerah kepulauan memiliki potensi sumber daya lain yang cukup besar. Bahan baku hasil perikanan, misalnya, relatif mudah ditemukan dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber bahan pakan alternatif.
Potensi tersebut yang kemudian terus dipelajari dan diuji agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Bagi Pak Jek, bahan yang selama ini dianggap sebagai hasil samping atau belum memiliki nilai ekonomi tinggi sebenarnya dapat menjadi sumber daya apabila diolah dengan tepat.
Konsep yang dikembangkan Kelompok Tani Terang Jaya Abadi adalah bagaimana memanfaatkan bahan baku yang tersedia di daerah untuk memenuhi kebutuhan peternakan.
Dengan begitu, peternak tidak sepenuhnya bergantung pada bahan baku yang didatangkan dari luar daerah.
Upaya tersebut juga memiliki nilai ekonomi yang lebih luas. Apabila bahan baku lokal dapat dimanfaatkan, biaya transportasi dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar berpotensi ditekan.
Namun, untuk mendapatkan formulasi yang tepat, diperlukan proses riset dan percobaan yang berkelanjutan.
Pak Jek bersama kelompoknya terus melakukan pengolahan dan pengujian terhadap berbagai bahan yang tersedia. Tujuannya adalah menghasilkan pakan yang tidak hanya terjangkau, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan dan produktivitas ayam.
Inovasi Pak Jek tidak berhenti pada produksi pakan.Ia juga aktif mengembangkan pembibitan ayam Kampung Petelur Unggul (KPU).
Pengembangan pembibitan ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai usaha peternakan yang lebih lengkap. Peternak tidak hanya memiliki akses terhadap pakan, tetapi juga dapat mempelajari proses pembibitan dan pemeliharaan ayam.
Setelah melalui perjalanan panjang selama kurang lebih tiga tahun, Pak Jek akhirnya berhasil melakukan proses persilangan varietas bibit ayam.Hasil persilangan tersebut kemudian diberi nama “Pedaging Unggul Pedaging (PUP).”
Keberhasilan ini menjadi salah satu capaian penting dari proses riset yang dilakukan secara mandiri selama bertahun-tahun.
Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Berbagai percobaan, pengamatan dan evaluasi dilakukan hingga akhirnya menghasilkan varietas yang diyakini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Bagi Pak Jek, keberhasilan tersebut bukan titik akhir, melainkan bagian dari proses panjang untuk terus mengembangkan bibit ayam yang sesuai dengan kebutuhan peternak lokal.
Perjalanan usaha Pak Jek juga menarik karena tidak dimulai dengan fasilitas produksi yang lengkap.
![]() |
| Mesin Pengolahan Pakan Ternak |
Pada tahap awal, sejumlah peralatan untuk memproduksi pakan dibuat sendiri menggunakan keterampilan dan kreativitasnya.Peralatan hasil karya tangan tersebut menjadi modal awal untuk menjalankan proses produksi sekaligus melakukan berbagai eksperimen.
Seiring waktu, kerja keras dan inovasi yang dilakukan mulai mendapat perhatian dari instansi terkait. Dukungan kemudian datang dari pemerintah, termasuk bantuan peralatan produksi pabrikan yang kini digunakan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi pakan.
Perjalanan dari peralatan sederhana buatan sendiri hingga menggunakan peralatan pabrikan tersebut menjadi gambaran bagaimana sebuah inovasi di tingkat masyarakat dapat berkembang secara bertahap.
Tempat usaha Pak Jek di Desa Sungai Samak kini memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Selain menjadi lokasi produksi pakan dan pembibitan ayam, tempat tersebut telah dimanfaatkan sebagai sentra pelatihan bagi peternak lokal, baik dari Kabupaten Belitung maupun Kabupaten Belitung Timur.
Peternak yang datang tidak hanya melihat hasil akhir produksi, tetapi juga dapat mempelajari prosesnya.
Mulai dari pengenalan bahan baku, pengolahan pakan, penggunaan peralatan, pembibitan ayam hingga berbagai pengalaman praktis dalam menjalankan usaha peternakan.
Keberadaan sentra ini mendapat perhatian dari instansi terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, diantaranya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Belitung, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Belitung Timur, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. Kep. Bangka Belitung.
Harapannya, tempat tersebut dapat terus berkembang menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan peternakan berbasis potensi lokal.
Tidak hanya peternak, pengembangan sentra tersebut juga mulai diarahkan untuk menjadi tempat belajar bagi generasi muda.
![]() |
| Kunjungan Perwakilan SMKN Simpang Renggiang Beltim, dalam rangka kerjasama Pelatihan Anak Didiknya |
Sejumlah SMK di Bangka Belitung nantinya akan mengirimkan siswa untuk mengikuti pelatihan di tempat Pak Jek.
Di antaranya SMKN Simpang Renggiang Kabupaten Belitung Timur, serta SMK lainnya yang berada di Kabupaten Belitung dan Kabupaten Bangka.
Para siswa nantinya tidak hanya belajar mengenai ayam, tetapi juga diperkenalkan dengan proses pengelolaan sumber pakan alternatif.
Konsep pelatihan diarahkan agar siswa mampu melihat dan mengidentifikasi potensi bahan baku yang terdapat di daerah asal masing-masing.
Setiap daerah memiliki sumber daya yang berbeda. Bahan baku yang tersedia di Belitung belum tentu sama dengan yang terdapat di Bangka atau Belitung Timur.
Karena itu, siswa akan diajak belajar bagaimana mengenali potensi daerah masing-masing, kemudian mencari kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber pakan ayam alternatif.
Dengan metode tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman langsung mengenai bagaimana proses inovasi peternakan dilakukan.
Pelibatan siswa SMK dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya regenerasi peternak.
Peternakan saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang memelihara hewan. Ada aspek teknologi, riset, pengolahan bahan baku, manajemen produksi hingga pemasaran yang membutuhkan keterampilan dan kreativitas.
Pengalaman Pak Jek menunjukkan bahwa seorang peternak juga dapat menjadi inovator.
Dari keterbatasan bahan baku, ia mencoba mencari alternatif. Dari keterbatasan peralatan, ia membuat sendiri. Dari proses pembibitan, ia melakukan persilangan hingga akhirnya setelah tiga tahun menghasilkan varietas yang diberi nama Pedaging Unggul Pedaging.
Semangat tersebut yang kemudian ingin ditularkan kepada generasi muda.
Siswa tidak hanya diharapkan menjadi tenaga kerja, tetapi juga mampu menjadi orang yang menciptakan solusi bagi persoalan peternakan di daerahnya.
Sebagai wilayah kepulauan, Belitung memiliki karakteristik yang berbeda dengan daerah lain.
Sumber daya hasil perikanan relatif mudah ditemukan. Kondisi tersebut menjadi peluang yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan sektor peternakan.
Pak Jek melihat potensi tersebut sebagai salah satu sumber bahan baku yang dapat diteliti lebih lanjut.
Dengan riset dan pengolahan yang tepat, sumber daya lokal dapat diarahkan menjadi bahan pakan alternatif sehingga memberikan nilai tambah.
Konsep ini sekaligus mempertemukan dua potensi daerah, yakni perikanan dan peternakan.
Hasilnya diharapkan bukan hanya membantu menekan biaya pakan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari bahan baku yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.
Perjalanan Pak Jek bersama Kelompok Tani Terang Jaya Abadi menjadi contoh bahwa inovasi dapat tumbuh dari desa dan dari keterbatasan.
Apa yang dimulai dengan peralatan buatan tangan sendiri kini berkembang menjadi sentra produksi dan pelatihan.
Apa yang bermula dari kebutuhan mencari pakan terjangkau kemudian berkembang menjadi riset pemanfaatan bahan baku lokal.
Dan apa yang awalnya hanya berupa aktivitas pembibitan ayam akhirnya menghasilkan sebuah varietas hasil persilangan setelah tiga tahun proses pengembangan, yakni Pedaging Unggul Pedaging.
Kini, tempat tersebut bukan hanya milik Pak Jek dan kelompoknya.
Tempat itu mulai menjadi ruang belajar bagi peternak dari Belitung dan Belitung Timur serta calon generasi peternak dari berbagai SMK di Bangka Belitung.
Harapannya, inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dengan dukungan pemerintah, dunia pendidikan dan berbagai pihak terkait.
Sebab, membangun kemandirian peternakan tidak cukup hanya dengan menghasilkan ayam.
Diperlukan bibit yang baik, pakan yang terjangkau, bahan baku lokal yang tersedia, teknologi yang tepat, serta sumber daya manusia yang mampu berinovasi.
Dari Desa Sungai Samak, Pak Jek mencoba membuktikan bahwa semua itu dapat dimulai dari hal sederhana: berani mencoba, terus melakukan riset, memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar, dan tidak berhenti berkreasi.
Jika model tersebut terus berkembang dan direplikasi di berbagai daerah, bukan tidak mungkin Bangka Belitung memiliki lebih banyak sentra peternakan berbasis potensi lokal yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dari Sungai Samak, inovasi peternakan tumbuh. Dari potensi lokal, kemandirian peternak mulai dibangun.
Rls/3W@





