Tanjungpandan, BernasTV – Menjawab pertanyaan masyarakat mengenai kegiatan pawai tahunan yang selama ini identik dengan rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Belitung melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) memberikan penjelasan terkait konsep kegiatan yang tengah dipersiapkan tahun ini.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Belitung, H. Robert Harison, S.Sos., M.Si., Kamis (27/8/2026), mengatakan kegiatan yang direncanakan tersebut kurang tepat apabila langsung disebut sebagai Pawai Pembangunan seperti yang selama ini dikenal masyarakat.
Menurut Robert, kegiatan pawai tetap direncanakan, namun konsep dan nuansanya akan dibuat berbeda dan lebih tematik, menyesuaikan dengan tugas dan fungsi Kesbangpol yang berkaitan dengan kebangsaan, kerukunan, pembauran masyarakat, serta organisasi kemasyarakatan.
“Belum pas kalau disebut pawai pembangunan. Karena kalau pawai, iya. Tetapi kalau pawai pembangunan, saya khawatir yang ditampilkan dalam pawai itu bukan dalam bentuk pembangunan,” jelas Robert.
Diarahkan Menjadi Karnaval Bhinneka Tunggal Ika
Robert mengungkapkan, konsep yang saat ini sedang disiapkan mengarah pada Karnaval Bhinneka Tunggal Ika. Kendati demikian, konsep tersebut masih akan dimatangkan bersama pihak-pihak terkait sebelum ditetapkan secara resmi.
![]() |
| Pawai Pembangunan Kabupaten Belitung tahun 2026 |
Karnaval nantinya akan menonjolkan keberagaman suku, budaya, agama, dan kelompok masyarakat yang hidup berdampingan di Kabupaten Belitung.
“Karena ini di Kesbangpol, kebangsaan dan politik, kita mengampu rekan-rekan dari unsur masyarakat, organisasi kemasyarakatan, kemudian ada Forum Kerukunan Umat Beragama dan Forum Pembauran Kebangsaan,” katanya.
Menurut Robert, kerukunan masyarakat akan menjadi pesan utama yang hendak disampaikan melalui kegiatan tersebut.
“Pawai yang akan kita selenggarakan itu kemungkinan, tetapi nanti akan kita matangkan lagi, dalam bentuk Karnaval Bhinneka Tunggal Ika. Jadi yang kita tampilkan utamanya adalah kerukunan dan parade yang diisi oleh suku-suku bangsa yang besar yang ada di Kabupaten Belitung,” ujarnya.
Sekitar 16 Suku Besar Bakal Dilibatkan
Kesbangpol mencatat terdapat kurang lebih 16 suku besar yang hidup dan berkembang di Kabupaten Belitung. Keberagaman tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan daerah yang layak ditampilkan kepada masyarakat luas.
Sejumlah kelompok masyarakat dari berbagai latar belakang suku, seperti Batak, Minang, Jawa, Melayu Belitung dan suku lainnya, direncanakan berpartisipasi dalam parade tersebut.
Masing-masing kelompok nantinya dapat menampilkan kekhasan budayanya, mulai dari pakaian adat, seni pertunjukan, kuliner tradisional hingga berbagai bentuk ekspresi kebudayaan lainnya.
“Nanti yang ditampilkan itu kemungkinan, kalau mereka sudah siap, adalah bentuk parade seni budaya, baik makanan, pakaian, mungkin kesenian yang lainnya,” kata Robert.
Tidak hanya kelompok suku, karnaval juga direncanakan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Dengan konsep tersebut, tema besar kegiatan akan lebih diarahkan kepada kebhinekaan, persatuan dan kerukunan masyarakat Belitung.
Bukan Pawai Pembangunan Seperti Tahun-tahun Sebelumnya
Robert menegaskan, masyarakat perlu memahami perbedaan konsep tersebut agar tidak muncul anggapan bahwa kegiatan yang akan digelar merupakan Pawai Pembangunan sebagaimana yang selama ini dikenal.
Pasalnya, apabila menggunakan konsep Pawai Pembangunan, maka peserta umumnya menampilkan capaian pembangunan, program pemerintah maupun berbagai hasil pembangunan dari masing-masing instansi.
Sementara kegiatan yang tengah dipersiapkan Kesbangpol memiliki orientasi berbeda.
“Karena ini adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Kesbangpol,” ujarnya.
Karena itu, kegiatan tahun ini akan dibuat lebih tematik dengan menempatkan nilai-nilai kebangsaan sebagai pesan utama.
Konsep tersebut sekaligus menjawab anggapan sebagian masyarakat yang selama ini mengidentikkan momentum peringatan 17 Agustus dengan pelaksanaan pawai tahunan.
“Disebut beda, iya, lebih tematik. Karena selama ini identiknya ketika ada tujuh belasan ada pawai,” jelas Robert.
Direncanakan Oktober, Momentum Bulan Pancasila dan Sumpah Pemuda
Untuk waktu pelaksanaan, Kesbangpol Kabupaten Belitung sementara ini mengarahkan kegiatan pada Oktober 2026, dengan perkiraan sekitar minggu ketiga atau keempat.
Namun Robert menegaskan jadwal tersebut masih bersifat tentatif dan akan kembali dimatangkan.
Pemilihan Oktober dinilai memiliki keterkaitan kuat dengan semangat kebangsaan. Pada bulan tersebut terdapat dua momentum nasional penting, yakni Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober dan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
“Rencananya kita floating sekitar bulan Oktober, di minggu ketiga atau keempat. Tapi nanti akan kita matangkan. Di bulan Oktober ada Kesaktian Pancasila dan Sumpah Pemuda,” terangnya.
Dengan momentum tersebut, Karnaval Bhinneka Tunggal Ika diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga Pancasila, persatuan, toleransi dan semangat kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat.
Belitung Dinilai Memiliki Modal Kerukunan yang Kuat
Robert juga menyoroti karakter masyarakat Belitung yang selama ini dikenal terbuka terhadap masyarakat pendatang.
Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membuat kehidupan sosial di Belitung relatif guyub dan harmonis meskipun masyarakatnya berasal dari beragam suku, agama dan latar belakang.
“Belitung ini kan luar biasa. Orang datang ke Belitung ini senang. Kenapa? Orang Belitung welcome. Siapa saja datang diterima dan diperlakukan dengan baik,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut Robert, merupakan modal sosial yang sangat berharga dan harus terus dipertahankan.
Masyarakat dari berbagai daerah dapat hidup berdampingan selama saling menghormati dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat lainnya.
Hal itu pula yang menurutnya membuat Belitung relatif mampu menjaga suasana tetap kondusif ketika di sejumlah daerah lain terjadi dinamika sosial maupun sentimen antarkelompok.
“Itu menyebabkan pada saat dinamika di luar gejolaknya tinggi, ada sentimen dan sebagainya, kita bagus, ayem. Walaupun kita jangan sampai mengurangi kewaspadaan,” tegas Robert.
Melalui rencana Karnaval Bhinneka Tunggal Ika, Kesbangpol Kabupaten Belitung ingin menjadikan keberagaman tersebut tidak hanya sebagai realitas sosial, tetapi juga sebagai kekuatan daerah yang ditampilkan dan dirawat bersama.
Karnaval diharapkan menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat sekaligus mempertegas wajah Belitung sebagai daerah yang terbuka, toleran, guyub dan menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan demikian, masyarakat yang menantikan pawai tahunan tahun ini kemungkinan akan menyaksikan format yang berbeda. Bukan sekadar parade pembangunan, tetapi sebuah perayaan keberagaman yang membawa pesan bahwa perbedaan suku, agama dan budaya merupakan kekuatan dalam menjaga persatuan di Kabupaten Belitung.
Red/3W@


