BernasTV, Belitung – Program edukasi bertajuk “Menghidupkan Sejarah di Ruang Kelas Nyata” sukses dilaksanakan di Museum Tanjung Pandan, Kamis (23/04/2026). Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 4 dan 5 SD Negeri 1 Sijuk sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas yang berfokus pada penguatan literasi sejarah dan pembentukan karakter.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung, Tomy Wardiansyah, Kepala UPT Museum Tanjungpandan Refzan Maynovri, Koordinator Kegiatan UPT Museum Tanjungpandan Galih Prawira, serta para guru pendamping dari SDN 1 Sijuk, yakni Bambang Prebiyanto, Windi Apriandi, dan Shela Lestari.

Selama kegiatan berlangsung, siswa mendapatkan pengalaman belajar langsung di lingkungan museum dengan bimbingan dari tim UPT Museum. Koordinator kegiatan, Galih Prawira, memberikan arahan serta penjelasan terkait berbagai koleksi dan sejarah yang tersimpan di museum, khususnya yang berkaitan dengan sejarah lokal Belitung.

Kunjungan Edukasi SDN 1 Sijuk di Museum Tanjungpandan, Kamis (23/04/2026)
Suasana kegiatan terlihat penuh semangat. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari pengenalan koleksi hingga diskusi interaktif. Pendekatan pembelajaran kontekstual ini dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap sejarah daerahnya.

Ketua kegiatan yang juga guru pendamping, Bambang Prebiyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari imbauan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung terkait pelaksanaan program edukasi berbasis pengalaman langsung.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga berinteraksi langsung dengan sumber sejarah. Ini menjadi bagian penting dalam pengembangan literasi sejarah sekaligus membangun karakter siswa melalui pemahaman terhadap warisan budaya lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran alternatif di luar kelas yang mampu memberikan pengalaman nyata kepada siswa, sehingga materi sejarah menjadi lebih hidup dan mudah dipahami.

Ke depan, diharapkan program ini dapat terus berlanjut dan diikuti oleh sekolah-sekolah lain di Kabupaten Belitung. Selain memperkuat pengetahuan sejarah, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya dan identitas daerah sejak usia dini.
“Harapannya, semakin banyak siswa yang tertarik mempelajari sejarah, khususnya sejarah Belitung. Program ini bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter dan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya,” tutup Bambang.
*Red/Elvan