Dalam forum tersebut, Mahdar menyoroti peran strategis pabrik kelapa sawit tanpa kebun (pabrik komersial) yang selama ini dinilai mampu mengakomodasi kebutuhan petani swadaya melalui skema kemitraan.
“Untuk petani swadaya yang bermitra dengan pabrik komersial, sejatinya hubungan ini dibangun atas dasar kesepakatan bersama. Yang paling utama adalah komitmen masing-masing pihak punya hak dan kewajiban yang harus dijalankan secara seimbang. Jangan hanya menuntut hak, tapi kewajiban diabaikan. Kita harus sama-sama patuh,” tegasnya.
Ia menyebut, kondisi harga TBS di Kabupaten Belitung saat ini relatif masih stabil dan kondusif. Namun demikian, pembenahan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menuju tata kelola yang lebih baik.
Ketua Apkasindo Belitung, Mahdar, Senin (20/4/2026)
“Untuk Belitung, alhamdulillah masih aman terkait harga TBS. Tapi ini harus kita jaga sembari terus berbenah ke arah yang lebih baik,” ujarnya.
Secara khusus, Mahdar juga menyampaikan harapan kepada perusahaan pengolahan sawit, termasuk PT BAT, agar dapat menjadi contoh dalam memberikan harga yang layak bagi petani.
“Kami berharap PT BAT bisa menjadi role model sebagai perusahaan tanpa kebun yang berani membeli TBS dengan harga yang baik. Ini penting untuk menjaga kepercayaan petani,” katanya.
Menanggapi wacana penutupan pabrik tanpa kebun, Mahdar menegaskan bahwa Apkasindo Belitung siap berada di garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan rantai pasok, termasuk sebagai penyedia bahan baku.
“Kalau memang ada kebijakan itu, kami dari DPD Apkasindo Belitung siap berada di depan sebagai penyedia bahan baku hingga 20 persen,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan para pemegang Delivery Order (DO) di PT BAT agar bertanggung jawab terhadap petani binaannya, termasuk memastikan keberlanjutan pembelian hasil panen.
“Ke depan, kami minta para pemegang DO benar-benar menjaga petaninya. Beli buah mereka, naungi mereka, jangan sampai ada masalah lalu ditinggalkan,” ujarnya.
Di sisi lain, Ia mengajak seluruh petani sawit untuk bersikap cerdas dan menjaga kekompakan dalam memperjuangkan kepentingan bersama.
“Petani harus berpikir cerdas. Kita harus kompak, jangan ada yang jadi ‘pahlawan kesiangan’ atau bahkan penghianat di balik perjuangan kita untuk petani sawit Bangka Belitung,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, khususnya kepada Hamzah, yang dinilai konsisten membina dan mendampingi petani melalui organisasi Apkasindo.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Hamzah selaku pembina Apkasindo Belitung atas dukungan dan pendampingannya selama ini,” tutupnya.
Sebelumnya, dalam RDP tersebut, Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya, mendorong agar harga TBS berada di angka minimal Rp3.000 per kilogram sebagai langkah menjaga keberlangsungan ekonomi petani di tengah meningkatnya biaya produksi.
Rapat lanjutan dijadwalkan akan kembali digelar pada 23 April 2026 dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan guna merumuskan langkah konkret yang berkeadilan bagi petani dan pelaku usaha.
*Red/Elvan
