TpO0TUC8TUG6BUA9TSA5BSr7Td==
BERITA
TERKINI

BMKG Tegaskan Air Hujan Tak Otomatis Berbahaya Akibat Pembenihan Awan, Masyarakat Diminta Waspadai Hoaks

Ukuran huruf
Print 0

Jakarta, BernasTV  – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluruskan informasi yang beredar di media sosial mengenai larangan menampung dan menggunakan air hujan saat berlangsungnya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Informasi tersebut dipastikan keliru dan bukan merupakan informasi resmi yang dikeluarkan BMKG.

Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul beredarnya sebuah poster yang mengimbau masyarakat tidak menampung air hujan untuk keperluan memasak, mandi, minum, dan kebutuhan lainnya. Poster itu mengaitkan larangan tersebut dengan kegiatan pembenihan awan atau cloud seeding yang disebut-sebut dapat mencemari air hujan dengan bahan tertentu.

BMKG menegaskan bahwa anggapan air hujan otomatis menjadi berbahaya hanya karena dilakukan pembenihan awan tidak tepat.

Bahan Semai Tidak Otomatis Membuat Air Hujan Berbahaya

Dalam pelaksanaan OMC, bahan semai memang digunakan untuk membantu proses pembentukan atau meningkatkan peluang terjadinya hujan pada awan yang memenuhi persyaratan.

Operasi Modifikasi Cuaca
Namun, penggunaan bahan semai dalam proses tersebut tidak serta-merta menyebabkan air hujan yang turun menjadi berbahaya bagi masyarakat.

Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa setiap hujan yang terjadi selama atau setelah kegiatan modifikasi cuaca telah tercemar bahan kimia atau tidak aman digunakan.

BMKG juga menekankan pentingnya membedakan antara penggunaan bahan semai dalam OMC dengan bukti adanya pencemaran pada air hujan. Klaim mengenai bahaya terhadap kesehatan semestinya didasarkan pada data dan hasil pengujian, bukan hanya asumsi bahwa pembenihan awan sedang dilakukan.

Kualitas Atmosfer Tetap Perlu Diperhatikan

Meski demikian, kualitas air hujan tetap perlu menjadi perhatian, terutama apabila kondisi atmosfer di suatu wilayah sedang tercemar.

Asap serta partikulat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), misalnya, dapat memengaruhi kondisi atmosfer. Faktor lingkungan seperti inilah yang juga perlu dipertimbangkan ketika membahas kualitas air hujan.

Dengan demikian, penilaian terhadap aman atau tidaknya air hujan tidak dapat hanya didasarkan pada ada atau tidaknya kegiatan OMC.

BMKG: Poster Viral Bukan Informasi Resmi

Melalui materi klarifikasinya, BMKG secara tegas menyatakan tidak pernah mengeluarkan informasi seperti yang tercantum dalam poster viral tersebut.

“BMKG tidak mengeluarkan informasi seperti pada gambar tersebut. Terdapat kesalahan informasi pada poster tersebut yang perlu diluruskan,” demikian penjelasan yang tercantum dalam klarifikasi BMKG.

Masyarakat pun diimbau lebih berhati-hati menerima dan menyebarkan informasi mengenai cuaca, modifikasi cuaca maupun isu kesehatan yang beredar melalui media sosial.

Sebelum mempercayai sebuah klaim, masyarakat sebaiknya memahami terlebih dahulu mekanisme OMC, memeriksa informasi melalui kanal resmi pemerintah atau lembaga berwenang, serta membedakan penggunaan bahan semai dengan bukti ilmiah mengenai pencemaran air.

Keberadaan bahan semai dalam proses modifikasi cuaca tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menyimpulkan bahwa air hujan berbahaya bagi kesehatan.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi melalui media sosial, verifikasi sumber menjadi penting agar masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi keliru yang dapat menimbulkan kekhawatiran.

Sumber: Siaran Pers BMKG, 4 September 2026.


Red/3W@,Sabina


BMKG Tegaskan Air Hujan Tak Otomatis Berbahaya Akibat Pembenihan Awan, Masyarakat Diminta Waspadai Hoaks
Periksa Juga
Selanjutnya..
Tautan berhasil disalin