Kegiatan yang dimulai pukul
14.00 WIB tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor
kemaritiman, mulai dari Pelindo Regional 2 Tanjungpandan,
KSOP Kelas IV Tanjungpandan, Forum Nelayan Baro, Kantor Distrik Navigasi Kelas
I Palembang Stasiun Radio Pantai Tanjungpandan, Dinas Perikanan Kabupaten
Belitung, Kantor Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tanjungpandan, DPC INSA
Belitung, Pos TNI AL Mendanau, Mako Polairud Polda Kepulauan Bangka Belitung,
Sat Polair Polres Belitung, hingga PT Pelindo Jasa Maritim Cabang
Tanjungpandan.
Pertemuan berlangsung dalam
suasana penuh kekeluargaan namun tetap serius. Berbagai persoalan yang selama
ini menjadi perhatian para pelaku usaha maritim dan nelayan dibahas secara
terbuka, khususnya mengenai keberadaan rambu penanda alur pelayaran atau buoy
yang beberapa kali mengalami kehilangan setelah dipasang.
Persoalan tersebut dinilai
tidak hanya berdampak pada aktivitas kapal-kapal besar yang keluar masuk
Pelabuhan Tanjungpandan, tetapi juga menjadi ancaman nyata bagi keselamatan
ratusan nelayan tradisional yang setiap hari melaut menggunakan perahu
berukuran kecil.
Ketua Forum Nelayan Baro Tanjungpandan, Erwin, menjadi salah
satu pihak yang menyampaikan langsung kondisi nyata yang dialami para nelayan
di lapangan. Menurutnya, hilangnya rambu laut bukanlah persoalan baru,
melainkan telah terjadi berulang kali selama beberapa tahun terakhir.
Ia mengungkapkan bahwa
setiap kali rambu dipasang, harapan para nelayan agar pelayaran menjadi lebih
aman kembali muncul. Namun harapan tersebut kerap pupus karena dalam waktu
singkat rambu kembali hilang.
"Rambu laut ini sudah sering dipasang, namun keesokan harinya hilang kembali. Kejadian seperti ini bukan hanya sekali dua kali, tetapi sudah berulang. Akibatnya nelayan kembali kesulitan menentukan jalur aman untuk keluar masuk pelabuhan," ujar Erwin.
Menurut Erwin, kondisi
geografis alur pelayaran menuju Dermaga Baro memiliki karakteristik yang
berbeda dibanding pelabuhan lain. Jalur tersebut merupakan alur muara sungai
yang terus mengalami sedimentasi akibat endapan lumpur dan pasir.
![]() |
| Erwin, Ketua Forum Nelayan Baro Tanjungpandan |
"Alur menuju Dermaga Baro sangat dangkal karena sedimentasi. Tidak sedikit perahu nelayan yang akhirnya kandas ketika air surut ataupun saat salah mengambil jalur pelayaran. Karena itu keberadaan rambu laut benar-benar menjadi penunjuk arah yang sangat dibutuhkan," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa masih
banyak nelayan tradisional di Belitung yang belum memiliki perangkat navigasi
modern seperti Global Positioning System (GPS). Kondisi tersebut membuat rambu
laut menjadi satu-satunya acuan visual ketika melaut.
"Kami yang sudah puluhan tahun mencari ikan di laut Belitung saja masih sangat membutuhkan rambu. Pengalaman saja tidak cukup karena kondisi alur selalu berubah akibat sedimentasi. Apalagi tidak semua perahu memiliki GPS. Banyak nelayan kecil yang masih mengandalkan pengalaman dan keberadaan rambu sebagai penunjuk arah," katanya.
Menurut Erwin, apabila
kondisi ini terus dibiarkan, risiko kecelakaan laut maupun kandasnya perahu
akan semakin besar. Dampaknya bukan hanya kerugian material, tetapi juga dapat
membahayakan keselamatan jiwa para nelayan.
Oleh karena itu, Forum
Nelayan Baro mengajak seluruh unsur maritim untuk memperkuat sinergi dalam
menjaga keberadaan rambu laut sekaligus mencari solusi jangka panjang agar
permasalahan tersebut tidak terus berulang.
"Kami berharap persoalan ini menjadi tanggung jawab bersama. Forum Nelayan Baro mengajak seluruh insan maritim, baik pemerintah, aparat penegak hukum, pengelola pelabuhan maupun instansi terkait untuk bersama-sama mencari langkah terbaik. Yang kami perjuangkan bukan hanya kepentingan nelayan Baro, tetapi keselamatan seluruh pengguna alur pelayaran di Pelabuhan Tanjungpandan," tegas Erwin.
Dalam forum tersebut,
GM Pelindo Regional 2 Tanjungpandan, Andi Oktavian Dwi Cahyo,
memastikan bahwa pemasangan rambu baru segera direalisasikan.
![]() |
| GM Pelindo Regional 2 Tanjungpandan, Andi Oktavian Dwi Cahyo |
"Dalam minggu ini akan dipasang. Saat ini masih proses finishing dan sementara sudah terpasang satu titik. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh insan maritim yang telah peduli dan ikut serta dalam kegiatan ini. Sinergi seperti ini sangat penting demi keselamatan pelayaran di Pelabuhan Tanjungpandan," Jelas Andi.
Sementara itu Kepala KSOP
Kelas IV Tanjungpandan, Bambang
Candra, menegaskan komitmen pihaknya untuk turut mendampingi
pemasangan rambu baru di lapangan.
"KSOP siap turun ke lapangan dan ikut serta dalam pemasangan rambu yang baru sehingga prosesnya dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Melalui forum koordinasi
tersebut, seluruh peserta sepakat bahwa keselamatan pelayaran merupakan
tanggung jawab bersama. Keberadaan rambu laut tidak hanya menjadi fasilitas
navigasi bagi kapal-kapal niaga, tetapi juga menjadi penentu keselamatan bagi
ratusan nelayan tradisional yang menggantungkan hidupnya dari laut.
Forum Nelayan Baro berharap
sinergi yang telah dibangun dalam pertemuan ini dapat menghasilkan langkah
nyata, baik dalam pemasangan rambu baru, pengawasan terhadap fasilitas
navigasi, maupun penyusunan solusi jangka panjang terhadap persoalan
sedimentasi yang selama ini menjadi tantangan utama di alur Pelabuhan
Tanjungpandan.
Rls/3W@




